Kemenperin Bantu Rp1,7 Miliar Bangun Pabrik Sale Pisang di Lambar

Yudha Setiawan

Lampung Barat, BP.id
Guna meningkatan produksi makanan khas daerah, Kementerian Perindustrian gelontorkan dana bantuan Rp1,7 milliar di tahun 2020 untuk pembuatan pabrik sale pisang di Kabupaten Lampung Barat (Lambar). Hal tersebut dikatakan Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Lambar, Yudha Setiawan saat dikonfirmasi, Kamis (27/2/2020).

Dikatakan Yudha, bantuan tersebut diperuntukan untuk pembangunan fasilitas pabrik milik kelompok wanita tani (KWT) Melati di Pekon (Desa) Tribudi Syukur, Kecamatan Kebun Tebu. Dimana dana tersebut, akan diperuntukan untuk pembangunan sarana gedung pabrik beserta pagar, masin produksi dan listrik.

Bacaan Lainnya

“Langkah ini adalah upaya pemerintah pusat memajukan pelaku industri makanan sekaligus mempromosikan makanan khas daerah,” katanya.

Menurut Yudha, bahwa Lambar sebelumnya hanya menjadi penyuplai baik bahan mentah berupa pisang atau bahan mentah sale kering (belum digoreng) ke luar daerah. Walapun, diketahui potensi untuk mengolah dan memasarkan secara mandiri dapat dilakukan.

“Ini upaya kita mempromosikan makanan yang sumber bahannya memang kita miliki sendiri. Banyak dijumpai, sale pisang yang dijual di Kota Bandung asalmu-asal bahan dari sini. KWT Melati ini yang menyuplainya,” katanya.

Yudha berharap, dengan diberikan bantuan tersebut dapat meningkatkan petani, khususnya KWT Melati yang terus mengembangkan usahanya dibidang makanan sale pisang. Sekaligus, memasarkan makanan kemasan secara mandiri.

Selain produksi sale pisang, kedepan pihaknya juga akan mengembangkan makanan olahan dari jenis kakau (coklat). Hal ini sebagai langkah memanfaatkan potensi hasil bumi yang ada di Lambar. Salah satu wilayah berpotensi dalam pengembangan itu yakni, Kecamatan Suoh dan Bandar Negeri Suoh (BNS).

“Potensi yang dapat dikembangkan kedepan coklat. Yang akan dipusatkan di Suoh dan BNS. Saat ini masih pembentukan KWT agar dapat disalurkan bantuan untuk pengelolaan coklat,” katanya.

Dikatakan Yudha, salah satu syarat untuk mendapatkan program bantuan, KWT setidaknya harus memiliki 10 kelompok binaan yang aktif memproduksi.

“Di Suoh dan BNS sudah ada kelompok yang memproduksi makanan olahan bahan baku coklat. Ini masih kita kembangkan agar terbentuk KWTnya supaya mendapatkan bantuan,” ucapnya. (wahyu)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

40 + = 44