Diduga Dana BOS di SMK Negeri 1 Kota Agung Barat Jadi Bancakan

Tanggamus, (Bongkarpost)- Dana Bantuan Oprasional Sekolah (BOS) tahun 2019 di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Kota Agung Barat, Kabupaten Tanggamus diduga menjadi bancakan Oknum Kepala Sekolah. Bukan hanya itu saja, dugaan pungli semakin menguat di sekolah tersebut.

Untuk diketahui, Bantuan Operasional Sekolah atau BOS merupakan program pemerintah pusat untuk membantu pendanaan biaya operasional sekolah, yang bisa digunakan untuk administrasi kegiatan sekolah, penyediaan alat-alat pembelajaran, pembayaran honor, pengembangan perpustakaan, pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah, dan lain-lain.

Bacaan Lainnya

Namun banyak oknum- oknum di sekolah yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan dana tersebut untuk kepentingan pribadi dan memperkaya diri sendiri. Sehingga bantuan tersebut tidak tepat sasaran, dan tidak sesuai dengan keinginan pemerintah untuk meningkatkan kemajuan di dunia pendidikan.

Informasi dari sumber yang diterima media ini, bahwa pungli menggurita di lingkungan sekolah, seperti halnya praktek jual beli buku LKS (Lembar Kerja Siswa) senilai Rp10.000., hingga siswa- siswi harus membayar jutaan rupiah saat akan melakukan PKL (Praktek Keeja Lapangan).

Padahal, jual-beli LKS sangat bertentangan dengan peraturan yang telah di keluarkan oleh Permendikbud No 8 Tahun 2016, yakni pada pasal 9. Dan semestinya jual buku LKS di lingkungan sekolah sudah tidak ada lagi dan sekolah tidak ada lagi yang mengunakan buku LKS.

Menurut sumber yang enggan disebutkan namanya, nilai dana BOS di SMK Negeri 1 Kota Agung Barat yakni Triwulan I dengan nilai Rp250. 460. 000, Triwulan II Rp501. 120. 000, Triwulan III Rp250. 260. 000, dan Triwulan IV Rp265. 280. 000, nilai tersebut bisa disebut cukup fantastis.

“Disini didugaan oknum Kepala Sekolah melakukan manipulasi data siswa yang menerima bantua dana BOS,” kata sumber.

Lanjut dia, bahwa ekstrakurikuler di sekolah tersebut, dalam pengajuannya hingga mencapai 17 lebih ektrakurikuler, sementara fakta dilapangan justru jauh tidak mencapai angka tersebut. Seperti kegiatan siswa dibidang UKS (Unit Kesehatan Siswa) yang tidak berkembang, kenudian dalam ekstrakurikuler futsal siswa harus memberikan iuran untuk membeli bola sendiri. (Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 1 = 8